Archive for IsLamiCs

Cinta dan Nafsu part III (Mengukuhkan Cinta Sejati)

Sesungguhnya cinta yang paling mulia dan paling tinggi adalah cinta yang keluar dari hati yang tulus. Cinta seperti ini diciptakan semata-mata atas dasar penghambaan dan ibadah kepada Allah SWT. Dengan cinta yang seperti inilah bumi menjadi tegak serta kokoh. Sesungguhnya Allah telah memprogram hati manusia untuk bertuhan, mengabdi kepada Allah dengan perasaan cinta, mengagungkan dan memuliakan dengan cinta, seperti itu pulalah Allah menciptakan perasaan merendah dan khusyu’ pada jiwa manusia di hadapan-Nya.

Sebenarnya hati manusia diciptakan atas dasar cinta kasih Allah yang menciptakannya. Maka sungguh sangat memalukan apabila cinta yang dihadirkan dalam setiap hati manusia hanya dijadikan alat pembenaran terhadap keinginan sang hawa nafsu. Pada hakikatnya, semua hal yang dicintai maupun yang dibenci oleh manusia merupakan pemberian-Nya. Allah pun telah mengkaruniakan manusia dengan akal pikiran agar manusia dapat berfikir dan memutuskan jalan hidup yang terbaik bagi dirinya. Ibarat hati seorang manusia berada pada titik tengah antara pikiran dan hawa nafsunya. Apabila hatinya lebih condong kepada hawa nafsu maka sesungguhnya manusia tersebut berada dalam kesesatan yang nyata hanya terkadang manusia tersebut tidak menyadarinya. Namun sebaliknya hati yang condong pada akal pikiran akan mendatangkan kemaslahatan bahkan kebahagiaan yang hakiki di dunia maupun di akhirat.

Imam al-Ghazali merangkumkan alasan-alasan mengapa manusia harus menempatkan cintanya kepada Allah pada tingkatan yang tertinggi. Beberapa di antaranya adalah sebagai berikut:
1.     Allah telah menciptakan manusia, mengekalkan keberadannya, menyempurnakan lahiriah, menciptakan semua sifat, dan segala faktor kesempurnaan seorang manusia dibandingkan dengan makhluk lainnya. Seperti firman Allah yang tercantum dalam Q.S. Ibrahim ayat 23 “Jika kalian mau menghitung-hitung nikmat-Ku, maka pasti kalian tidak akan sanggup menghitungnya”
2.    Allah senantiasa menolong dan dan berbuat baik kepada hambanya tampa mengharapkan imbalan apapun. Berbeda halnya dengan manusia yang mencintai seseorang karena menginginkan sesuatu untuk dirinya sendiri. Sedangkan Allah seperti dalam hadits qudsi, “Hamba-Ku menginginkan orang lain untuk dirinya, dan Aku menginginkanmu untuk dirimu sendiri”
3.    Allah yang maha memberi pengetahuan kepada makhluk-Nya dan pengetahuan yang Maha Tinggi hanyalah milik Allah semata.
4.    Kekusaan Allah Maha Besar tidak terbatas dan tidak ada satupun makhluk di alam semesta ini yang mampu menandingi-Nya. Maka apabila seorang manusia memohon pertolongan kepada Allah dengan hati yang tulus maka sesungguhnya Allah akan mengabulkannya.
5.    Kedekatan sifat Allah dan sifat hamba-Nya.

Cinta inilah yang merupakan cinta sejati yang tidak akan pernah mendatangkan mudharat dan malah Insya Allah akan mendatangkan keridhaan Allah SWT. Selanjutnya yang dirasakan dalam hidup ini adalah kebahagiaan yang tidak pernah dirasakan sebelumnya. Jika setiap muslim di mana pun berada khususnya di Indonesia senantiasa menjaga kesucian cinta maka Insya Allah bangsa ini bukan tidak mungkin akan bangkit dari keterpurukan dan krisis umat yang berkepanjangan. Pernahkan terpikirkan oleh diri kita bahwa sesungguhkan apa yang terjadi pada negeri ini pada saat ini adalah akibat ulah manusia yang berdiri di atasnya?

Wallahu a’lam bishawab..

Cinta dan Nafsu part II

Lanjutan Cinta dan Nafsu part I

Cinta dapat mendatangkan kemudharatan apabila tidak ditempatkan pada yang haq. Bahkan cinta seperti ini justru merusak kemaslahatan agama maupun duniawi. Menurut Ibnul Qoyyim al-Jauzi, kemudharatan dalam cinta yang hanya berdasarkan hawa nafsu dapat dilihat dari berbagai sudut pandang sebagai berikut:

  1. Apabila seseorang mencintai sesuatu melebihi cinta kepada Allah maka yang terjadi dalam hatinya adalah cinta yang satu mengalahkan yang lainnya.
  2. Orang yang mencintai sesuatu selain Allah akan mendapat ganjaran yaitu Allah akan menyiksanya dengan cinta itu sendiri. Hatinya akan selalu mengalami kegundahan dan kerinduan semu yang menyiksanya setiap waktu.
  3. Hatinya akan menjadi tawanan orang lain dan direndahkan oleh kehinaan karena mabuk asmara. Bagaikan burung di telapak tangan bocah kecil sedangkan bocah itu mempermainkan dan bercanda seenaknya.
  4. Keasyikan dalam mencintai selain Allah akan menghilangkan kemaslahatan agamanya. Hal ini sama halnya dengan menghilangkan kemaslahatan dunianya.
  5. Hati yang paling jauh dari Allah adalah hati yang dilanda keasyikan terhadap keinginan-keinginan dan bayangan yang didasari syahwat. Syaitan pun akan menemani dan menguasainya dari berbagai arah.
  6. Syaitan akan menjadi kokoh dalam hati. Ia menguasainya dan memperkuat kekuasaannya. Ia merusak akal dan benak manusia yang dilanda asmara, mendatangkan rasa was-was, dan membisikkan segala sesuatu yang negatif. Selanjutnya yang mungkin terjadi adalah membuatnya gila atau tergila-gila, merusak akal dan pikirannya hingga tidak bermanfaat sama sekali.
  7. Cinta akan merusak seluruh panca indera atau sebagian darinya baik psikis maupun fisik. Kerusakan psikis nerarti ia mengikuti kerusakan hati. Bila hati telah rusak maka rusak pula mata, telinga, dan lidah manusia. Orang tersebut akan melihat segala sesuatu yang buruk menjadi indah di matanya. Begitu pula kejelekan pada sesautu atau orang yang dicintai semuanya tampak indah.
  8. Cinta seperti ini adalah cinta di luar batas. Orang yang dicintai telah menguasai orang yang mencintai sehingga orang yang dicintai itu tidak pernah hilang dari bayangan dan otaknya. Pada saat ini, jiwa lebih sibuk melayani kekuatan hewani dan nafsu yang membuat kekuatannya lenyap.

Cinta yang semacam ini pada awalnya memang terasamudah, indah, dan manis. Namun sesungguhnya cinta seperti ini lambat laun akan mendatangkan keresahan, pergolakan hati, dan pada akhirnya menimbulkan rasa sakit. Selanjutnya ia akan binasa apabial tidak mendapakan pertolongan Allah SWT semata. Hal ini tentu saja termasuk penganiayaan kepada diri sendiri.

To be continued..

Cinta dan Nafsu (part I)

Siapakah yang tidak mengenal kata cinta? Semua manusia di muka bumi ini baik tua maupun muda, kaya maupun miskin, pasti mengenal kata cinta. Cinta memang mudah untuk diucapkan. Tapi apakah semua orang mampu menafsirkan makna dari kata cinta itu sendiri? Pada saat ini, sebagian besar manusia di dunia terutama para remaja yang sedang mengalami masa transisi menuju kedewasaan, seringkali menafsirkan cinta dalam makna yang sempit. Makna yang justru seringkali menjerumuskan manusia ke dalam jurang kesesatan. Apakah cinta hanya ditafsirkan sedemikian rendahnya? Jikalau saja manusia memahami hakikat cinta yang sebenarnya tentulah cinta tersebut akan mendatangkan kebahagiaan yang tiada habisnya. Yang tak akan pernah lekang ditelan zaman dan akan terus bersemi hingga habis masa ini.

Cinta yang hadir pada setiap manusia pada hakikatnya merupakan anugrah dari Sang Pencinta yaitu Allah SWT. Islam juga merupakan agama yang senantiasa mengajarkan cinta dan kasih sayang. Karena cinta inilah manusia diciptakan dan lahir di dunia ini. Karena cinta Allah menurunkan firman-Nya dan mengutus Rasul-Nya untuk membimbing manusia ke jalan yang benar menuju kenikmatan dan kebahagiaan di dunia maupun di akhirat. Dan karena cinta ini pulalah manusia dapat belajar, memahami, dan bersosialisasi dengan manusia serta makhluk hidup lainnya demi menjaga kelangsungan kehidupan manusia itu sendiri.

Namun pada kenyataannya pada saat ini cinta hanya menjadi dalih bagi manusia untuk menuruti hawa nafsunya. Cinta yang seperti ini pada kenyataannya mengandung kerusakan dan kemudharatan baik di dunia maupun di akhirat. Cinta seperti ini melahirkan gambaran-gambaran dan bayangan-bayangan yang dampaknya merusak hati. Bila hati telah rusak maka kehendak, pembicaraan, dan berbagai aktivitas pun akan rusak yang pada puncaknya akan merusak ketauhidan. Naudzubillah.

Islam memang tidak melarang dua insan manusia saling mencintai. Namun cinta ini dapat mengandung syirik dan kafir apabila orang yang mencintai selalu mendahulukan kerelaan orang yang dicintai daripada Allah SWT. Seperti fenomena yang terjadi saat ini. Banyak sekali dua insan terutama para remaja yang terjerumus dalam pergaulan bebas yang mengatasnamakan cinta. Bahkan kini berpacaran pun telah menjadi gaya hidup bagi sebagian besar remaja kita termasuk yang beragama Islam. Bagaimana hal ini bisa terjadi? Padahal Allah SWT telah berfirman dalam surah Al-Israa ayat 32 yaitu

“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.”

Hal ini sudah jelas menegaskan bahwa Allah melarang segala sesuatu yang mendekati zina termasuk dalam konteks berpacaran, bersentuhan dan berkhalwat berduaan. Hal ini juga semakin diperkuat oleh sunah Rasulullah SAW yang berbunyi:

“Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir maka tidak boleh baginya berkhalwat (berdua-duaan) dengan seorang wanita, sedangkan wanita tersebut tidak bersama mahramnya. Karena sesungguhnya yang ketiga di antara mereka adalah syaitan (H.R. Ahmad).

Sesungguhnya orang-orang yang sangat menuruti keinginan dan hasrat hati akan senantiasa dalam keadaan yang sia-sia apabila menempatkan cintanya kepada makhluk lebih tinggi daripada cintanya kepada Allah dan Rasulnya. Bahkan menurut Ibnul Qoyyim al-Jauzi, cinta yang demikian akan terus-menerus membelenggu hatinya dan bahkan menjadikan orang tersebut rela menukar penghambaannya kepada Allah dan menjadikan sesama hamba serupa dengan Allah SWT. Padahal penghambaan merupakan hakikat dari cinta dan kepatuhan. Maka apabila dia telah menghabiskan kekuatan cinta dan kepatuhannya untuk orang yang amat dia cintai maka sama artinya dengan memberikannya hakikat pengabdian.

To be continued..

Sebuah Renungan…

Beberapa waktu yang lalu ketika saya hendak melaksanakan shalat zhuhur, saya tidak sengaja mendengar percakapan antara dua akhwat yang masih terbilang junior saya di kampus. Pada awalnya mereka bercerita tentang keprihatinan mereka terhadap bangsa ini, tentang kebobrokan moral bangsa, tentang ketidakbecusan pemerintah dalam mengelola negara, sampai ketertinggalan negara ini jika dibandingkan dengan negara lain. Hal ini memang ada benarnya juga dan sudah tidak perlu dipungkiri lagi bahwa saat ini bangsa Indonesia sedang mengalami masa-masa yang sulit di mana banyak sekali sistem yang harus dibenahi di dalam negeri sementara perubahan-perubahan yang terjadi di seluruh dunia sudah tidak dapat dibendung lagi. Namun kemudian pembicaraan mereka beralih pada bagaimana masa depan mereka di negara ini. Salah seorang di antara mereka berkata yang intinya adalah dirinya menginginkan karir yang cerah hingga bisa mendapatkan koneksi dengan banyak pihak di dalam dan luar negeri agar ke depannya dia bisa menjalankan proyek-proyeknya dengan lebih leluasa. Selanjutnya yang dia berkata bahwa dia pesimis semua hal itu bisa dicapainya di negara ini dengan kondisi bangsa yang seperti ini. Dia pun menyambungkan bahwa dirinya lebih baik ke luar negeri saja, ke tempat yang jauh lebih baik dari negara ini dan bahkan dirinya berpikir untuk mengganti kewarganegaraan. Perkataannya ini juga dibenarkan oleh temannya bahwa temannya ini juga ingin meniti karir di negara lain dan tidak menutup kemungkinan untuk pindah kewarganegaraan juga.

Yang membuat saya sedikit tersentak adalah ketika akhwat yang pertama berkata bahwa “Tidak apa-apa kita begitu, toh Islam juga tidak mewajibkan kita untuk mengabdi pada pemerintahan, tetapi yang diwajibkan adalah mengabdi kepada agama yaitu Islam.”

Hal inilah yang membuat batin saya bergejolak. Sedikit berlebihan memang. Tapi saya benar-benar tidak habis pikir.

Memang benar, kita berhak untuk memilih kehidupan dan masa depan yang lebih baik daripada yang kita miliki di negara ini. Islam juga menyuruh kita untuk berhijrah apabila keadaan di tempat asal kita memang sudah tidak memungkinkan lagi bagi kemajuan diri kita. Allah SWT pun di dalam Al-Qur’an berfirman “Dan bertebaranlah engkau di muka bumi..”, hal ini jelas menunjukkan bahwa Islam tidak membatasi ummatnya untuk mencari rizki yang halal dan penghidupan yang layak di mana pun di dunia ini. Saya pun tidak berhak untuk melarang seseorang meraih masa depan yang lebih baik di negeri orang dan bahkan saya pribadi pun sempat berpikir untuk bekerja di luar negeri setelah lulus.

Namun, ada banyak hal yang sangat penting untuk kita renungi sebagai generasi penerus. Tanpa bermaksud untuk menggurui atau sok nasionalis, saya berpikir bahwa jika banyak generasi bangsa ini yang berpikir untuk pindah ke negara lain, lantas siapa yang akan membangun bangsa ini?? Kita sebagai anak bangsa yang bisa mengenyam pendidikan tertinggi dan terbaik memang memiliki segudang kesempatan untuk mengejar karir dan meraih kehidupan yang lebih layak daripada di negara ini. Tapi coba tengoklah kanan dan kiri kita, adakah saudara-saudara kita memiliki kesempatan yang sama? Bagaimana dengan mereka yang tidak bisa seperti kita? Dan bagaimana kalau kita sama-sama melihat ke bawah? Apakah kita akan berpaling dari mereka, saudara terdekat kita yang sedang kelaparan? Jika memang bangsa ini bobrok, pemerintahan ini tidak becus, dan negara ini ketinggalan, maka siapa lagi yang akan memperbaikinya jika bukan kita? Apa kita akan meninggalkan tanah tempat kita dilahirkan, tanah yang memberikan kita kehidupan dan penghidupan selama ini? Apakah kemerdekaan bangsa ini yang dengan susah payah direbut oleh para pahlawan akan kita biarkan direbut kembali oleh para kapitalis barat?

 

Yah, di negara lain mungkin kita bisa hidup enak.

Di negara lain pendapat kita mungkin lebih dihargai.

Di negara lain kita boleh merasa aman dan nyaman.

Di negara lain kita meraih masa depan yang cerah.

 

Tapi bagaimana dengan bangsa ini?

Bukanlah Islam menyuruh kita terlebih dahulu untuk menolong saudara terdekat yang sedang kesulitan?

Bukankah membela tanah air juga merupakan jihad dalam Islam?