Sesungguhnya cinta yang paling mulia dan paling tinggi adalah cinta yang keluar dari hati yang tulus. Cinta seperti ini diciptakan semata-mata atas dasar penghambaan dan ibadah kepada Allah SWT. Dengan cinta yang seperti inilah bumi menjadi tegak serta kokoh. Sesungguhnya Allah telah memprogram hati manusia untuk bertuhan, mengabdi kepada Allah dengan perasaan cinta, mengagungkan dan memuliakan dengan cinta, seperti itu pulalah Allah menciptakan perasaan merendah dan khusyu’ pada jiwa manusia di hadapan-Nya.
Sebenarnya hati manusia diciptakan atas dasar cinta kasih Allah yang menciptakannya. Maka sungguh sangat memalukan apabila cinta yang dihadirkan dalam setiap hati manusia hanya dijadikan alat pembenaran terhadap keinginan sang hawa nafsu. Pada hakikatnya, semua hal yang dicintai maupun yang dibenci oleh manusia merupakan pemberian-Nya. Allah pun telah mengkaruniakan manusia dengan akal pikiran agar manusia dapat berfikir dan memutuskan jalan hidup yang terbaik bagi dirinya. Ibarat hati seorang manusia berada pada titik tengah antara pikiran dan hawa nafsunya. Apabila hatinya lebih condong kepada hawa nafsu maka sesungguhnya manusia tersebut berada dalam kesesatan yang nyata hanya terkadang manusia tersebut tidak menyadarinya. Namun sebaliknya hati yang condong pada akal pikiran akan mendatangkan kemaslahatan bahkan kebahagiaan yang hakiki di dunia maupun di akhirat.
Imam al-Ghazali merangkumkan alasan-alasan mengapa manusia harus menempatkan cintanya kepada Allah pada tingkatan yang tertinggi. Beberapa di antaranya adalah sebagai berikut:
1. Allah telah menciptakan manusia, mengekalkan keberadannya, menyempurnakan lahiriah, menciptakan semua sifat, dan segala faktor kesempurnaan seorang manusia dibandingkan dengan makhluk lainnya. Seperti firman Allah yang tercantum dalam Q.S. Ibrahim ayat 23 “Jika kalian mau menghitung-hitung nikmat-Ku, maka pasti kalian tidak akan sanggup menghitungnya”
2. Allah senantiasa menolong dan dan berbuat baik kepada hambanya tampa mengharapkan imbalan apapun. Berbeda halnya dengan manusia yang mencintai seseorang karena menginginkan sesuatu untuk dirinya sendiri. Sedangkan Allah seperti dalam hadits qudsi, “Hamba-Ku menginginkan orang lain untuk dirinya, dan Aku menginginkanmu untuk dirimu sendiri”
3. Allah yang maha memberi pengetahuan kepada makhluk-Nya dan pengetahuan yang Maha Tinggi hanyalah milik Allah semata.
4. Kekusaan Allah Maha Besar tidak terbatas dan tidak ada satupun makhluk di alam semesta ini yang mampu menandingi-Nya. Maka apabila seorang manusia memohon pertolongan kepada Allah dengan hati yang tulus maka sesungguhnya Allah akan mengabulkannya.
5. Kedekatan sifat Allah dan sifat hamba-Nya.
Cinta inilah yang merupakan cinta sejati yang tidak akan pernah mendatangkan mudharat dan malah Insya Allah akan mendatangkan keridhaan Allah SWT. Selanjutnya yang dirasakan dalam hidup ini adalah kebahagiaan yang tidak pernah dirasakan sebelumnya. Jika setiap muslim di mana pun berada khususnya di Indonesia senantiasa menjaga kesucian cinta maka Insya Allah bangsa ini bukan tidak mungkin akan bangkit dari keterpurukan dan krisis umat yang berkepanjangan. Pernahkan terpikirkan oleh diri kita bahwa sesungguhkan apa yang terjadi pada negeri ini pada saat ini adalah akibat ulah manusia yang berdiri di atasnya?
Wallahu a’lam bishawab..