Archive for GiGs

Addicted to Arctic Monkeys

1. I already have this one:

Whatever People Say I Am, That's What I'm Not

2. I still need this one:

Favourite Worst Nightmare

3. Oh I can’t help myself to have this!

Arctic Monkeys DVD

4. Huhu, I can only dream of this:

Musik Indie: Ekspresi Kebebasan

Freedom of expression

Begitulah kira-kira jargon dari salah satu ajang kontes musik Indie terbesar di Indonesia. Yup, sesuai namanya yaitu Indie yang berasal dari kata Independent, musik ini dapat diidefinifikan sebagai musik-musik yang dipublikasikan tanpa bantuan dari major label atau lebih dikenal dengan istilah “do-it-yourself publishing”. Perkembangan musik jenis ini juga tidak didasari oleh pemenuhan selera pasar atau kepentingan komersial, namun lebih kepada keinginan para penciptanya untuk memasukkan berbagai unsur yang diinginkan ke dalam musiknya sendiri. Itulah mengapa musik indie ini selalu disebut dengan musik kebebasan.

Perkembangan musik ini tentu saja berawal dari ranah Britania Raya dan Amerika Serikat pada tahun 50-60 an yang ditandai pula dengan munculnya berbagai perusahaan rekaman yang mengusung label Indie. Namun demikian, kebanyakan dari perusahaan-perusahaan ini tidak bertahan lama dan pada akhirnya tenggelam juga oleh dominasi major label. Tapi tentu tidak dengan musik Indie itu sendiri. Pada dekade berikutnya yaitu sekitar tahun 70an, banyaknya para pemusik (terutama aliran punk pada saat itu) yang tidak mau terikat kontrak (atau yang tidak dilirik) oleh major label kembali memunculkan perusahaan rekaman kecil2an. Dan pada tahun 1978 lahirlah label-label seperti Cherry Red, Rough Trade, dan Mute di Inggris yang menyokong perekaman, pendistribusian, sekaligus promosi musik-musik berlabel Indie tersebut. selanjutnya, label-label ini pun semakin maju dan pada tahun 1980 telah mampu menempatkan beberapa lagu dalam top 10 hits pada UK Singles Chart.

Dalam musik Indie sendiri terdapat beberapa subkategori dengan cakupan yang cukup luas. Musik dengan genre alternative rock, punk rock, sampai ke experimental music merupakan jenis yang paling banyak mewarnai musik Indie. Namun demikian, musik Indie seringkali dibagi menjadi dua kategori utama yaitu Indie Rock dan Indie Pop walaupun sebenarnya perbedaan antara keduanya tidaklah terlalu mencolok mengingat jenis instrumen yang digunakan biasanya sama-sama tidak lepas dari unsur gitar distorsi berbasis lagu pop. Perbedaan yang terlihat mungkin dapat ditinjau dari seberapa jauh musik Indie Rock tersebut mengikuti keautentikan dan kekentalan rock di dalamnya. Ada juga Indie dance yang datang dari perpaduan antara indie pop dan musik elektornik/dance. Masih ada lagi indietronic atau electronic indie yang lebih banyak mengandung unsur elektronika di dalamnya. Dan tentunya masih banyak lagi jenis-jenis musik Indie yang sedang berkembang saat ini.

Satu lagi hal yang paling khas di antara band-band Indie yang ada adalah nama dari band itu sendiri. Seperti halnya semangat kebebasan yang diusung oleh musik Indie, nama band-bandnya pun menjadi sangat unik dan “suka-suka gue”. Sebagai contoh dari luar ada nama-nama unik seperti Arctic Monkeys, the Rascals, Cold War Kids, Bear Colony, Frog Eyes, Margot and The Nuclear So and So’s, The Firebird Band, The Postal Service, Alex Ross-Iver or Fever Marlene, dll. Tidak terkecuali di Indonesia, nama-nama seperti Pure Saturday, Efek Rumah Kaca, Monkey to Millionaire, Tunas Bangsa Simphony, Gunting Kuku, Apel Kuning, Lipgloss, The Upstairs, dll turut menghiasi gemerlap musik Indie saat ini.

Perkembangan teknologi tentunya semakin mempermudah band-band Indie untuk mempromosikan dirinya sendiri. Saat ini internet dengan music and video sharing merupakan lahan publikasi yang paling subur. Perjuangan para pemusik Indie untuk dikenal publik kini pun semakin mudah dengan banyaknya berbagai wadah perkumpulan serta kontes-kontes musik Indie yang semakin menjamur. Tak terkecuali di negara ini. Semoga perkembangan musik Indie di Indonesia mampu memberikan angin segar bagi blantika musik tanah air kita. =)

The Last Shadow Puppets

Satu lagi band duo yang turut meramaikan kancah musik Inggris adalah The Last Shadow Puppets. Band yang baru saja dibentuk pada tanggal 20 Februari 2008 merupakan proyek terbaru vokalis Arctic Monkeys yaitu Alex Turner. Kali ini Alex dipasangkan dengan Miles Kane, salah satu personel The Rascals. Pertemanan mereka diawali ketika Miles Kane dengan band pertamanya yaitu The Little Flames bermain sebagai band pembuka dalam tour Arctic Monkeys pada tahun 2005. Memang nama band The Last Shadow Puppets ini belum seterkenal band-band duo lainnya seperti Kings of Convenience (Inggris) atau Simon & Garfunkel (AS). Namun demikian, album pertama mereka yang bertajuk The Age Of The Understatement mampu menembus peringkat pertama chart musik Inggris hanya dalam waktu beberapa bulan serta meraih penghargaan berupa band pendatang baru terbaik pada MOJO Awards 2008.

Musik yang disajikan oleh band ini memang sepintas tidak jauh berbeda dengan musik-musik ala Arctic Monkeys. Namun hal ini semata-mata lebih dipengaruhi oleh vokal Alex Turner yang lebih dominan pada sebagian besar lagunya. Namun demikian, band yang membawa aliran indie ini sebenarnya jauh lebih berwarna dari yang pernah disajikan oleh band mana pun. Musik dari band ini sangat kental dengan suasana musik-musik David Bowie, Lee Hazlewood, dan musisi lainnya pada era 60 sampai 70 an. Bahkan menurut saya, melodi dan pengemasan beberapa lagu yang bertemakan cinta pun tidak jauh dari pengaruh band legendaris The Beatles. Penambahan unsur orkestra pada hampir di seluruh lagu dalam album ini juga semakin memperkuat sisi klasik, full of drama, dan “berdarah-darah” dalam musiknya. Album yang berisi 12 lagu ini sungguh merupakan buah yang manis dari talenta muda seperti Alex Turner dan Miles Kane. Anda pun akan terbuai dengan aroma oldies yang dikemas rapi dalam ekspresi kebebasan musik Indie. Hmmm.. jika anda belum pernah mendengarkan band ini sebelumnya, saya menyarankan agar anda jangan mendengar lagu The Age of The Understatement lebih dulu karena mungkin musiknya agak sulit untuk dinikmati di awal. Sebaiknya anda mendengar lagu-lagu yang berjudul Calm Like You (salah satu favorit saya), Standing Next to Me, atau My Mistakes Were Made for You. Dan untuk yang tidak terlalu menyukai hingar bingar musiknya, saya sarankan juga agar anda mendengar versi akustiknya yang saya jamin tidak akan membuat anda kecewa.

Dan berikut ini saya tampilkan beberapa video dari The Last Shadow Puppets:

Enjoy !

Standing Next to Me

My Mistakes Were Made for You

ArCtiC moNkeyS,,

Seperti yang telah saya sebutkan sebelumnya,, arctic monkeys adalah salah satu band favorit saya hingga saat ini.. Dan berikut ini adalah beberapa video mereka yang saya ambil berdasarkan lagu yang paling saya suka di album terakhir mereka yaitu Favourite Worst Nightmare.. selamat menonton..

-Teddy Picker-

-Brianstorm-

-Flourescent Adolescent-

My Favourite Clowns

Pertama kali saya memutar video ini di internet, saya langsung berpikir, “What the..??”. Yup, dengan memakai kostum badut ini mereka berempat tampil di salah satu acara TV di negara asal mereka yaitu Inggris.

Namun ternyata, begitu saya mendengarkan nada pertama sampai yang terakhir, saya langsung terpana dengan musikalitas mereka yang luar biasa. Melodi gitar, betotan bas, dan drumbeat yang begitu harmonis dan sangat kental dengan nuansa musik indie disertai dengan vokal Alex Turner yang khas dan begitu jernih (persis seperti di rekaman) pada akhirnya membuat saya mengacungkan 3+1 jempol untuk band asal Sheffield ini.

Yap, inilah Arctic Monkeys yang membawakan salah satu hitsnya dari album Favourite Worst Nightmare yang berjudul Flourescent Adolescent. Dan kenapa mereka mau memakai kostum badut ini adalah karena memang di video klip untuk lagu ini mereka juga memakai kostum badut. Jadi saya pikir hal ini merupakan bagian dari promosi saja. Dan jangan heran pula jika anda melihat penampilan band ini seperti tampak biasa-biasa saja atau malah terkesan kaku seperti band-band pensi sekolah. Hal ini bukan karena mereka kurang pengalaman atau tidak ekspresif tapi karena mereka memang (menurut saya) memiliki sedikit ciri shoegaze dengan yang memperlihatkan sang vokalis berkonsentrasi bernyanyi tanpa memedulikan penonton. Mereka mementingkan sajian, bukan penampilan. Mereka menyajikan substansi, bukan style. Inilah yang mereka lakukan di panggung. Musik-musiknya pun tak lepas dari nada-nada yang sangat “benderang” namun tetap mengandung unsur-unsur depresif.

Secara keseluruhan, menurut pandangan saya, musik, lirik (meskipun terkesan asal-asalan), serta teknologi mereka sudah sangat baik walaupun tentu saja belum sekelas band-band gaek seperti Radiohead, Pink Floyd, dsb. Namun tetap saja untuk band yang dipunggawai oleh anak-anak muda (mereka lahir tahun 1985-1986), band ini sangat fenomenal dan mampu menyihir semua penikmat musik jenis ini termasuk saya hahaa.. dan dengan melihat penampilan mereka di video ini, sudah barang tentu bahwa merekalah badut favorit saya hingga saat ini…hehehe

Videon lengkapnya silakan dilihat di sini:

20 AlBum TerBaik di InggRis

Sekedar memberi info..

Beberapa waktu yang lalu salah satu majalah musik Inggris mengadakan polling mengenai 50 album terbaik di Inggris dalam kurun waktu 50 tahun.Dari hasil polling tersebut 2 album Oasis berhasil meraih posisi pertama dan kedua album terbaik, mengalahkan band-band legenda seperti the Beatles, Rolling Stones, dan Pink Floyd. The Beatles sendiri berhasil menempatkan 4 albumnya di 20 terbaik dan adapun album tonggak Pink Floyd Dark Side of the Moon masuk ke peringkat 9. Sedangkan Rolling Stones berhasil memasukkan dua album walaupun hanya bisa menempati urutan 48 dan 50. Hm,,mungkin ini bisa dijadikan referensi bagi penikmat lagu-lagu yang lahir di britania raya dari era 60-an sampe sekarang..

Berikut adalah top 20 album terbaik Inggris

Definitely Maybe – Oasis

(What’s the Story?) Morning Glory – Oasis

OK Computer – Radiohead

Revolver – the Beatles

The Stone Roses - The Stone Roses

Sgt Pepper’s Lonely Hearts Club Band – the Beatles

London Calling – The Clash

Under the Iron Sea – Keane

Dark Side of the Moon – Pink Floyd

Urban Hymns – The Verve

The Bends – Radiohead

Abbey Road – the Beatles

Hopes and fears – Keane

Don’t Believe the Truth – Oasis

Violator – Depeche Mode

The Queen is Dead – The Smiths

A Night at the Opera – Queen

Whatever People Say I Am, That’s What I’m Not – Arctic Monkeys

The White Album – the Beatles

Never Mind the Bollocks – Sex Pistols