Tentang Film Laskar Pelangi..


Film yang diangkat dari novel terlaris di Indonesia ini adalah salah satu film yang paling saya tunggu-tunggu tahun ini. Saya sangat antusias dengan hadirnya film ini dan berharap film ini bisa memberikan angin segar pada perfilman tanah air yang kini lebih banyak didominasi oleh film-film dengan cerita yang sungguh dangkal dan miskin unsur pendidikan. Ditambah lagi film ini diproduksi oleh Miles Production dan disutradai oleh Riri Riza yang saya yakini akan semakin menambah nilai plus dari film ini. Hari itu saya pun memaksakan diri untuk menonton film Laskar Pelangi walaupun saat itu saya sedang terkena sakit flu dan batuk. Tapi demi film tersebut saya rela untuk pergi ke bioskop dan menonton bersama saudara2 saya.
Namun sayang, harus saya katakan di sini bahwa saya sedikit kecewa dengan film Laskar Pelangi ini. Hmm, mungkin saya adalah salah satu penonton yang sangat mengharapkan film Laskar Pelangi bisa lebih dari itu. Buku novel Laskar Pelangi adalah buku dengan narasi yang sangat kuat di mana saya bisa merasa seluruh emosi sekaligus imajinasi saya terlibat dalam cerita tersebut. Saat saya membaca novelnya, saya benar2 merasa menjadi bagian dari Laskar Pelangi, menjelajahi setiap tempat di pulau Belitong, dan mengenal masing2 karakter tokohnya. Tampaknya hal-hal inilah yang mempengaruhi saya saat menonton film dan secara tidak sadar saya telah melanggar aturan yang paling sederhana dalam menonton film yaitu..nikmatin aja..hehe.Jadi menurut saya ada beberapa hal yang mengganjal dalam film ini. Yang pertama adalah hadirnya tokoh baru yang diperankan oleh Tora Sudiro. Sebenarnya tokoh Tora sebagai guru PN ini tidak ada di dalam buku. Saya sendiri pun merasa tidak nyaman dengan kehadiran tokoh ini, yang menurut saya tidak terlalu penting. Sungguh saya sama sekali tidak paham dengan esensi hadirnya tokoh ini. Mungkin yang bisa saya tangkap di sini adalah untuk memperlihatkan keteguhan hati Bu Mus untuk terus mengajar di SD Muhammadiyah yang miskin dan doyong ketimbang mengajar di sekolah PN yang mentereng-walaupun terus-menerus “digoda” oleh si guru PN. Saya menggunakan kata “digoda” di sini karena di dalam film guru PN tersebut terlihat menaruh hati kepada Bu Mus. Satu hal lagi yang menurut saya tidak penting: bumbu2 cinta antara guru PN terhadap Bu Mus. Akan jauh lebih baik jika bumbu cinta di film ini lebih difokuskan kepada kisah Ikal dan A Ling yang lebih murni, sederhana, polos, namun juga sangat indah dan berkesan. Saya sangat menyayangkan hal ini. Mungkin maksud dari kehadiran banyak artis Ibukota ini adalah untuk mendongkrak nilai komersial dari film Laskar Pelangi. Padahal tanpa itu pun, saya yakin bahwa masyarakat sudah lebih dulu mengetahui kekuatan dari cerita Laskar Pelangi dan setiap orang pasti merasa sangat penasaran dengan film tersebut meskipun belum sempat membaca bukunya. Jadi film ini seharusnya murni menampilkan tokoh2 dan alur cerita yang asli tanpa dilebih2kan atau dikurangi. Satu lagi yang harus saya kritisi di sini adalah tokoh Ikal dewasa yang diperankan oleh Lukman Sardi. Mohon maaf, saya harus katakan di sini bahwa tampaknya dari segi penokohan, karakter Ikal sama sekali tidak terasa di sini. Saya juga menyayangkan penampilan Lukman Sardi yang menurut saya kurang menunjukkan ciri-ciri seorang Ikal. Dirinya hanya tampil sebagai dirinya sendiri yaitu Lukman Sardi dan bukan sebagai Ikal. Padahal seorang aktor menurut saya bisa dikatakan ber”watak” apabila dia benar-benar menjadi sosok yang diperankannya: dalam hal ini adalah sosok Ikal. Bukan semata-mata menandai dirinya sebagai Ikal tapi dia adalah Ikal baik dari segi penampilan, sikap tubuh, logat berbicara dsb. Dalam film ini saya tahu dia memerankan tokoh Ikal dewasa tapi saya tidak mendapati diri sosok Ikal yang sebenarnya.
Satu hal lagi yang sempat membuat saya sedikit kecewa adalah 2 adegan krusial yang dalam film ini kurang ditampilkan secara maksimal yaitu adegan karnaval (tarian suku masai) dan cerdas cermat. Padahal menurut saya 2 adegan inilah yang sangat menguras emosi saat membaca bukunya. Adegan-adegan ini merupakan saat-saat di mana SD Muhammadiyah menunjukkan “taji”nya bahwa mereka pun tidak kalah dengan sekolah PN yang mentereng. Hal ini juga merepresentasikan bahwa kemiskinan dan kekurangan bukanlah suatu penghalang untuk meraih sesuatu yang besar.

Saya sadar sepenuhnya bahwa apabila terus menerus dibandingkan dengan bukunya maka pasti segala sesuatu yang tidak sesuai dengan ekspetasi kita pun akan terus ada. Walaupun ada beberapa hal yang mengganjal, tetap saja saya mengakui bahwa film ini adalah salah satu karya terbaik anak bangsa bukan hanya di tahun ini tapi juga dalam sepanjang sejarah perfilman Indonesia. Dan saya sangat berterima kasih kepada pihak2 yang terlibat dalam pembuatan film ini yang telah menyuguhkan film yang benar-benar menjadi oase ditengah film-film layar lebar saat ini yang hanya dipenuhi oleh mimpi-mimpi semu dan cerita yang itu-itu saja. Semoga buku dan film Laskar Pelangi dapat menjadi perintis lahirnya karya2 terbaik anak bangsa lainnya yang dapat memberikan semangat di tengah-tengah krisis yang dihadapi bangsa ini.

Leave a Comment