Lanjutan Cinta dan Nafsu part I
Cinta dapat mendatangkan kemudharatan apabila tidak ditempatkan pada yang haq. Bahkan cinta seperti ini justru merusak kemaslahatan agama maupun duniawi. Menurut Ibnul Qoyyim al-Jauzi, kemudharatan dalam cinta yang hanya berdasarkan hawa nafsu dapat dilihat dari berbagai sudut pandang sebagai berikut:
- Apabila seseorang mencintai sesuatu melebihi cinta kepada Allah maka yang terjadi dalam hatinya adalah cinta yang satu mengalahkan yang lainnya.
- Orang yang mencintai sesuatu selain Allah akan mendapat ganjaran yaitu Allah akan menyiksanya dengan cinta itu sendiri. Hatinya akan selalu mengalami kegundahan dan kerinduan semu yang menyiksanya setiap waktu.
- Hatinya akan menjadi tawanan orang lain dan direndahkan oleh kehinaan karena mabuk asmara. Bagaikan burung di telapak tangan bocah kecil sedangkan bocah itu mempermainkan dan bercanda seenaknya.
- Keasyikan dalam mencintai selain Allah akan menghilangkan kemaslahatan agamanya. Hal ini sama halnya dengan menghilangkan kemaslahatan dunianya.
- Hati yang paling jauh dari Allah adalah hati yang dilanda keasyikan terhadap keinginan-keinginan dan bayangan yang didasari syahwat. Syaitan pun akan menemani dan menguasainya dari berbagai arah.
- Syaitan akan menjadi kokoh dalam hati. Ia menguasainya dan memperkuat kekuasaannya. Ia merusak akal dan benak manusia yang dilanda asmara, mendatangkan rasa was-was, dan membisikkan segala sesuatu yang negatif. Selanjutnya yang mungkin terjadi adalah membuatnya gila atau tergila-gila, merusak akal dan pikirannya hingga tidak bermanfaat sama sekali.
- Cinta akan merusak seluruh panca indera atau sebagian darinya baik psikis maupun fisik. Kerusakan psikis nerarti ia mengikuti kerusakan hati. Bila hati telah rusak maka rusak pula mata, telinga, dan lidah manusia. Orang tersebut akan melihat segala sesuatu yang buruk menjadi indah di matanya. Begitu pula kejelekan pada sesautu atau orang yang dicintai semuanya tampak indah.
- Cinta seperti ini adalah cinta di luar batas. Orang yang dicintai telah menguasai orang yang mencintai sehingga orang yang dicintai itu tidak pernah hilang dari bayangan dan otaknya. Pada saat ini, jiwa lebih sibuk melayani kekuatan hewani dan nafsu yang membuat kekuatannya lenyap.
Cinta yang semacam ini pada awalnya memang terasamudah, indah, dan manis. Namun sesungguhnya cinta seperti ini lambat laun akan mendatangkan keresahan, pergolakan hati, dan pada akhirnya menimbulkan rasa sakit. Selanjutnya ia akan binasa apabial tidak mendapakan pertolongan Allah SWT semata. Hal ini tentu saja termasuk penganiayaan kepada diri sendiri.
To be continued..