Siapakah yang tidak mengenal kata cinta? Semua manusia di muka bumi ini baik tua maupun muda, kaya maupun miskin, pasti mengenal kata cinta. Cinta memang mudah untuk diucapkan. Tapi apakah semua orang mampu menafsirkan makna dari kata cinta itu sendiri? Pada saat ini, sebagian besar manusia di dunia terutama para remaja yang sedang mengalami masa transisi menuju kedewasaan, seringkali menafsirkan cinta dalam makna yang sempit. Makna yang justru seringkali menjerumuskan manusia ke dalam jurang kesesatan. Apakah cinta hanya ditafsirkan sedemikian rendahnya? Jikalau saja manusia memahami hakikat cinta yang sebenarnya tentulah cinta tersebut akan mendatangkan kebahagiaan yang tiada habisnya. Yang tak akan pernah lekang ditelan zaman dan akan terus bersemi hingga habis masa ini.
Cinta yang hadir pada setiap manusia pada hakikatnya merupakan anugrah dari Sang Pencinta yaitu Allah SWT. Islam juga merupakan agama yang senantiasa mengajarkan cinta dan kasih sayang. Karena cinta inilah manusia diciptakan dan lahir di dunia ini. Karena cinta Allah menurunkan firman-Nya dan mengutus Rasul-Nya untuk membimbing manusia ke jalan yang benar menuju kenikmatan dan kebahagiaan di dunia maupun di akhirat. Dan karena cinta ini pulalah manusia dapat belajar, memahami, dan bersosialisasi dengan manusia serta makhluk hidup lainnya demi menjaga kelangsungan kehidupan manusia itu sendiri.
Namun pada kenyataannya pada saat ini cinta hanya menjadi dalih bagi manusia untuk menuruti hawa nafsunya. Cinta yang seperti ini pada kenyataannya mengandung kerusakan dan kemudharatan baik di dunia maupun di akhirat. Cinta seperti ini melahirkan gambaran-gambaran dan bayangan-bayangan yang dampaknya merusak hati. Bila hati telah rusak maka kehendak, pembicaraan, dan berbagai aktivitas pun akan rusak yang pada puncaknya akan merusak ketauhidan. Naudzubillah.
Islam memang tidak melarang dua insan manusia saling mencintai. Namun cinta ini dapat mengandung syirik dan kafir apabila orang yang mencintai selalu mendahulukan kerelaan orang yang dicintai daripada Allah SWT. Seperti fenomena yang terjadi saat ini. Banyak sekali dua insan terutama para remaja yang terjerumus dalam pergaulan bebas yang mengatasnamakan cinta. Bahkan kini berpacaran pun telah menjadi gaya hidup bagi sebagian besar remaja kita termasuk yang beragama Islam. Bagaimana hal ini bisa terjadi? Padahal Allah SWT telah berfirman dalam surah Al-Israa ayat 32 yaitu
“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.”
Hal ini sudah jelas menegaskan bahwa Allah melarang segala sesuatu yang mendekati zina termasuk dalam konteks berpacaran, bersentuhan dan berkhalwat berduaan. Hal ini juga semakin diperkuat oleh sunah Rasulullah SAW yang berbunyi:
“Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir maka tidak boleh baginya berkhalwat (berdua-duaan) dengan seorang wanita, sedangkan wanita tersebut tidak bersama mahramnya. Karena sesungguhnya yang ketiga di antara mereka adalah syaitan (H.R. Ahmad).
Sesungguhnya orang-orang yang sangat menuruti keinginan dan hasrat hati akan senantiasa dalam keadaan yang sia-sia apabila menempatkan cintanya kepada makhluk lebih tinggi daripada cintanya kepada Allah dan Rasulnya. Bahkan menurut Ibnul Qoyyim al-Jauzi, cinta yang demikian akan terus-menerus membelenggu hatinya dan bahkan menjadikan orang tersebut rela menukar penghambaannya kepada Allah dan menjadikan sesama hamba serupa dengan Allah SWT. Padahal penghambaan merupakan hakikat dari cinta dan kepatuhan. Maka apabila dia telah menghabiskan kekuatan cinta dan kepatuhannya untuk orang yang amat dia cintai maka sama artinya dengan memberikannya hakikat pengabdian.
To be continued..
Cinta dan Nafsu part II « MyFakePLaSticWordS Said:
on July 8, 2008 at 5:12 pm
[...] post info By myfakeplasticthoughts Categories: IsLamiCs Lanjutan Cinta dan Nafsu part I [...]
reekoheek Said:
on September 1, 2008 at 4:27 pm
pertamax…
salahnya jaman sekarang orang uda pantes nikah dibatasi sama hal-hal semacam:
belum kerja laa, masih sekolah laa, belum punya rumah sama mobil sendiri laa, masih kemudaan lah (masih kemudaan kok uda bisa bikin anak?)
hehehe, sekedar mengkritisi dikotomi antara agama dengan fenomena sosial saat ini.
salam kenal…